Beberapa menit yang lalu, saya dengan iseng mencari nama saya sendiri di google. Pada halaman pertama terpampang informasi mengenai akun twitter dan blog saya, namun halaman berikutnya menunjukkan saya sebagai seorang koordinator sebuah kegiatan. Tidak pelak, memori saya akan peristiwa di akhir Desember 2009 itu muncul kembali. Ada kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan yang melanda. Saya memang tidak mampu menjadi seorang pemimpin tangguh dan kuat. Saya tidak mampu menjadi konseptor yang baik, apalagi pelaksana di lapangan. Hanya saja, saya merasa bahwa saya sudah merapikan konsep-konsep itu, tapi tidak ada yang memperhatikan secara detail. Saya merinci semua persiapan, tapi tidak ada yang memperhatikan, pada akhirnya semua menjadi berantakan. Saya tidak patut menyalahkan rekan dan teman yang telah membuat dan menjalankan kegiatan ini. Semua memang salah saya, seandainya saya leader yang baik, maka saya akan berkomunikasi dengan lancar, tapi itu tidak terjadi.
Kini, tinggalah penyesalan dan ketakutan setiap kali mengingatnya. Tidak dapat saya bayangkan apabila ada orang yang mengenal saya hanya sebagai koordinator kegiatan yang terdapat korban tewas satu orang.
"Kamu kenal Ida Mayanti? Mapala UI?"
"Tidak. Memang siapa dia?"
"Dia yang pegang acara akhir Desember 2009 di Semeru waktu itu. Ada korban tewasnya 1 orang, lho."
"Oh. Ko' bisa?"
"Ngga ngerti..."
Ya Tuhan... Sampai kapan trauma ini harus terjadi? Setiap tahun-kah? Dimana setiap memasuki bulan Desember, maka sebagian orang akan mengingat peristiwa itu. Mereka tidak akan melupakannya sampai kapanpun. Dan bukankah saya akan selalu terkait dengan hal itu?
Desember 2009, Desember 2010, Desember 2011, dan seterusnya.
"Mana nih panitia yang waktu itu? Ko' ga ada acara setahunnya?"
"Iya! Ga bertanggung jawab banget koordinatornya."
Ya Tuhan... Ampuni kelalaian saya dan berikan tempat yang terbaik untuk almarhum di sisi-Mu.
Berikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan dan sahabat-sahabat yang mencintainya.
____________
Pernah kuingin berlari dari semua ini
Dari semua orang yang mengenalku
Pernah kuingin melepas nomor kebanggaan ini
Tapi itu tidak menyelesaikan apapun
Pernah kuingin semua orang membenciku
Sehingga aku menjadi orang yang baru
Pernah kuingin mati saja
Tapi Tuhan masih memberikan kesempatan
Aku muak dengan segala pikiran
Aku benci dengan semua ketakutan
Maka, biarkan aku menatap gunung dan lautan dari sini saja, kawan
No comments:
Post a Comment